Tips Anak Pilihan, Bukan Anak Kesayangan

Pagi di Ruteng masih dingin ketika Nia, tetangga saya, mengeluh soal anak sulungnya yang protes karena adiknya dapat sepatu baru. "Katanya saya pilih kasih," ujarnya sambil menyeruput kopi. Saya tersenyum karena pernah di posisi itu. Dua anak saya, selisih empat tahun, sempat beberapa kali menuduh saya lebih sayang salah satu. Padahal di kepala saya, rasanya sudah adil. Di hati mereka, belum tentu.
Percakapan semacam itu membuat saya sadar bahwa "anak pilihan" sering disalahpahami. Banyak orangtua muda takut dianggap pilih kasih, lalu berusaha menyamakan segalanya. Padahal yang dibutuhkan anak bukan kesamaan, melainkan rasa dipilih secara tepat: dipilih untuk didengar, dipilih untuk dipahami, dipilih untuk mendapat waktu sesuai kebutuhannya. Itulah inti tips anak pilihan yang saya pelajari perlahan, kadang sambil menangis di dapur.
Artikel ini bukan soal membuat peringkat anak. Justru sebaliknya: bagaimana kita sebagai orangtua, terutama ibu bekerja, bisa hadir adil tanpa terjebak label anak kesayangan.
Kenali dulu apa yang sebenarnya dicari anak
Anak yang merasa "tidak dipilih" biasanya tidak sedang menghitung jumlah mainan. Ia sedang menghitung atensi. Psikolog anak kerap menyebut kebutuhan ini sebagai emotional availability, ketersediaan emosional orangtua. Ketika ibu sibuk menyiapkan sarapan dan menjawab pesan kantor, anak mungkin hanya merasakan "mama tidak ada untukku", meski tubuh saya ada di rumah.
Data yang bisa dijadikan pegangan: menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bekerja sama dengan UNICEF pada 2023, sekitar 1 dari 3 anak usia 2–4 tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak mendapat pengasuhan yang cukup responsif. Angka ini bukan untuk menakuti, tapi mengingatkan bahwa kualitas interaksi lebih menentukan daripada kuantitas waktu.
Cara praktis yang saya pakai: sisihkan 10–15 menit "waktu milik anak" per anak, tanpa HP, tanpa gangguan. Bisa bergiliran. Anak pertama dapat pagi sebelum sekolah, anak kedua dapat sore. Yang penting, saat giliran itu, saya benar-benar hadir. Bukan sekadar duduk bersama sambil scroll layar.

Adil bukan berarti sama rata
Ini kesalahan yang paling sering saya ulangi di awal menjadi ibu. Saya pikir adil berarti setiap anak dapat jatah yang persis sama. Akibatnya, anak yang butuh lebih banyak pendampingan belajar malah diabaikan agar "tidak ada yang iri". Sebaliknya, anak yang mandiri dipaksa menunggu giliran yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
Psikolog menyarankan konsep equity ketimbang equality: memberi sesuai kebutuhan, bukan sesuai ukuran yang seragam. Anak yang sedang tantrum butuh pelukan, bukan ceramah. Anak yang sedang asyik menggambar cukup ditemani diam-diam. Kalau kita bisa menjelaskan perbedaan itu ke anak dengan bahasa sederhana, mereka lebih mudah memahami Konteks tambahan ada di tips anak hemat .
Katakan misalnya: "Kakak butuh mama temani belajar matematika hari ini, adik butuh mama temani membaca. Besok giliran kakak yang ditemani lebih lama." Anak biasanya lebih menerima penjelasan konkret seperti itu ketimbang janji abstrak "mama sayang kalian sama".
Hadapi tantrum tanpa memihak
Tantrum adalah momen paling rawan munculnya label "anak kesayangan" atau "anak nakal". Ketika satu anak menangis keras di depan umum, refleks kita sebagai orangtua sering kali menenangkan yang menangis dan memarahi yang lain. Padahal keduanya sama-sama butuh perhatian.

Yang saya pelajari dari komunitas ibu di Ruteng: saat tantrum, turunkan dulu suara. Peluk anak yang menangis tanpa menghakimi. Setelah tenang, baru bicara. Hindari membandingkan, misalnya "lihat adikmu, dia tidak rewel". Kalimat semacam itu menanam benih rasa tidak dipilih di hati anak lain Bisa juga lihat tips anak lokal .
Untuk ibu bekerja yang waktu bertemunya terbatas, trik ini penting: jangan selesaikan konflik saat energi sedang habis. Kalau anak tantrum sepulang kerja, prioritaskan menenangkan dulu, diskusi bisa menyusul setelah makan malam. Anak lebih mudah menerima penjelasan saat perutnya kenyang dan suasana tenang.
Jaga energi ibu agar tetap hadir untuk semua anak
Saya menulis ini sambil jujur: ibu yang kelelahan sulit bersikap adil. Ketika saya kurang tidur atau belum makan, semua anak terasa sama merepotkan, dan saya cenderung "memilih" anak yang paling diam agar tidak menambah beban. Itu bukan keadilan, itu kelelahan yang menyamar Saya bahas lebih dalam di tips anak menilai game edukasi .
Work-life balance untuk ibu bekerja bukan soal membagi waktu 50:50 sempurna, karena itu tidak realistis. Yang lebih masuk akal: kenali jam-jam kritis di mana anak paling butuh kehadiran ibu, lalu lindungi jam itu. Misalnya, 30 menit setelah pulang kerja untuk mendengar cerita anak tanpa interupsi. Sisanya bisa dibagi dengan pasangan.
Saya juga belajar menetapkan ritme keluarga. Setiap Sabtu pagi, kami makan bersama tanpa gawai. Anak-anak mengambil giliran bercerita tentang minggu mereka. Hal kecil ini membuat masing-masing merasa dipilih, tanpa harus mengalahkan saudaranya.
Bagi yang ingin mendalami soal pengasuhan responsif, saya sarankan membaca panduan dari IDAI atau materi UNICEF tentang early childhood development. Sumber-sumber ini membahas tumbuh kembang anak dengan bahasa yang mudah dicerna orangtua awam.

Menjadi orangtua bukan tentang memilih siapa yang paling layak disayang, melainkan memastikan setiap anak merasa dipilih pada saat ia paling membutuhkan. Dari teras rumah di Ruteng, saya belajar bahwa keadilan sesungguhnya bukan dihitung dari jumlah yang sama, tapi dari rasa dipahami yang sama. Selama anak tahu ia punya tempat di hati saya, label "anak kesayangan" tak perlu ada.
Bacaan lanjutan: Tips anak
Untuk konteks lebih: sumber resmi
